(iStock)
Oleh:
Tim Hukumindo
Dalam perkuliahan sebelumnya platform www.hukumindo.com telah membahas mengenai "Reshuffle Kabinet: Hak Prerogatif Presiden dan Akuntabilitas Konstitusional", "Implikasi Konstitusional Putusan MK No.: 01/PHPU.PRES-XXIV/2026", silahkan dibaca juga mengenai "Dewan Pertimbangan Presiden Dalam Perspektif Hukum Tata Negara" dan pada kesempatan ini akan dibahas perihal 'Rekonstruksi Sistem PEMILU Indonesia Pasca Putusan MK Nomor: 135/PUU-XXII/2024'.
Pemilihan umum merupakan instrumen utama pelaksanaan kedaulatan rakyat dalam negara demokrasi konstitusional. Dalam sistem ketatanegaraan Indonesia, kedudukan pemilihan umum memperoleh landasan konstitusional melalui Pasal 1 ayat (2) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 (UUD NRI Tahun 1945), yang menegaskan bahwa kedaulatan berada di tangan rakyat dan dilaksanakan menurut Undang-Undang Dasar. Ketentuan tersebut dipertegas melalui Pasal 22E UUD NRI Tahun 1945 yang mengatur penyelenggaraan pemilihan umum secara langsung, umum, bebas, rahasia, jujur, dan adil setiap lima tahun sekali.
Perkembangan sistem pemilu Indonesia menunjukkan adanya perubahan desain kelembagaan yang terus berkembang. Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor: 14/PUU-XI/2013 menjadi landasan penyelenggaraan pemilu legislatif dan pemilu presiden secara serentak, yang kemudian diterapkan pada Pemilu 2019 dan 2024. Model tersebut dimaksudkan untuk memperkuat sistem presidensial dan menciptakan efisiensi penyelenggaraan pemilu. Namun, pelaksanaannya juga memunculkan persoalan, antara lain kompleksitas pemungutan suara, beban kerja penyelenggara, dan tantangan bagi pemilih dalam menentukan pilihan politik secara bersamaan.
Persoalan tersebut kembali memperoleh perhatian melalui Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor: 135/PUU-XXII/2024 yang diucapkan pada 26 Juni 2025. Dalam putusan ini, Mahkamah menentukan pemisahan penyelenggaraan pemilu nasional dan pemilu daerah. Pemilu nasional mencakup pemilihan anggota DPR, DPD, serta Presiden dan Wakil Presiden. Sementara itu, pemilu daerah mencakup pemilihan anggota DPRD provinsi dan kabupaten/kota serta kepala daerah. Pemilu daerah dilaksanakan dalam rentang waktu paling singkat dua tahun dan paling lama dua tahun enam bulan setelah pelantikan anggota DPR dan DPD atau Presiden dan Wakil Presiden.
Putusan tersebut membawa konsekuensi penting bagi desain sistem pemilu Indonesia. Di satu sisi, pemisahan pemilu diharapkan dapat meningkatkan kualitas representasi politik, menyederhanakan beban pemilih, dan memberikan ruang lebih besar bagi isu-isu pemerintahan daerah. Di sisi lain, perubahan tersebut menimbulkan persoalan mengenai pengaturan masa jabatan anggota DPRD dan kepala daerah, kepastian hukum transisi pemilu, serta kebutuhan penyesuaian peraturan perundang-undangan.
Berdasarkan persoalan tersebut, artikel ini membahas tiga pertanyaan utama: bagaimana dasar konstitusional rekonstruksi sistem pemilu setelah Putusan MK Nomor 135/PUU-XXII/2024; apa implikasi putusan tersebut terhadap desain kelembagaan dan periodisasi pemilu; serta bagaimana model pengaturan pemilu yang dapat menjaga keseimbangan antara efektivitas pemerintahan dan kedaulatan rakyat.
1. Dasar Konstitusional Rekonstruksi Sistem Pemilu
Rekonstruksi sistem pemilu harus ditempatkan dalam kerangka konstitusionalisme demokratis. Pasal 1 ayat (2) UUD NRI Tahun 1945 menegaskan prinsip kedaulatan rakyat, sedangkan Pasal 22E mengatur prinsip dasar penyelenggaraan pemilu. Kedua ketentuan tersebut menjadi landasan untuk menilai apakah suatu desain pemilu mampu menjamin pelaksanaan hak politik warga negara sekaligus mendukung penyelenggaraan pemerintahan yang demokratis.
Konstitusi tidak secara terperinci menentukan bahwa seluruh pemilihan harus dilaksanakan pada hari yang sama. Karena itu, persoalan keserentakan pemilu tidak semata-mata berkaitan dengan penentuan tanggal pemungutan suara, tetapi juga dengan pilihan desain kelembagaan yang paling sesuai dengan prinsip demokrasi konstitusional. Dalam Putusan Nomor: 55/PUU-XVII/2019, Mahkamah Konstitusi telah membuka ruang bagi beberapa model keserentakan pemilu. Perkembangan tersebut kemudian dipertegas melalui Putusan Nomor: 135/PUU-XXII/2024, yang menentukan pemisahan pemilu nasional dan pemilu daerah.
Secara konseptual, pemisahan tersebut dapat dipahami sebagai upaya membedakan arena representasi politik nasional dari arena representasi politik daerah. Pemilu nasional berkaitan dengan pembentukan lembaga perwakilan nasional dan kepemimpinan eksekutif nasional. Sebaliknya, pemilu daerah berkaitan dengan pembentukan lembaga perwakilan daerah dan pemilihan kepala pemerintahan daerah. Pemisahan waktu penyelenggaraan berpotensi memberi kesempatan kepada pemilih untuk menilai isu, program, dan rekam jejak kandidat berdasarkan lingkup kewenangannya masing-masing.
Meskipun demikian, efektivitas pemisahan pemilu tidak dapat diasumsikan tercapai secara otomatis. Hasilnya bergantung pada desain sistem pemilu, kualitas regulasi, kesiapan penyelenggara, sistem kepartaian, serta pendidikan politik masyarakat. Pemisahan pemilu bahkan berpotensi menambah biaya penyelenggaraan dan memperpanjang intensitas kompetisi politik apabila tidak disertai pengaturan yang memadai.
Oleh karena itu, konstitusionalitas desain pemilu perlu dinilai melalui sejumlah prinsip. Pertama, jaminan pelaksanaan kedaulatan rakyat. Kedua, kepastian hukum mengenai jadwal, tahapan, dan masa jabatan pejabat terpilih. Ketiga, perlindungan hak memilih dan hak untuk dipilih. Keempat, efektivitas penyelenggaraan pemerintahan. Kelima, proporsionalitas antara tujuan perubahan sistem dan konsekuensi kelembagaan yang ditimbulkannya.
Dengan demikian, Putusan MK Nomor: 135/PUU-XXII/2024 seharusnya tidak hanya dipahami sebagai perubahan jadwal pemilu. Putusan tersebut merupakan dasar bagi penataan kembali hubungan antara sistem pemilu, representasi politik, dan penyelenggaraan pemerintahan dalam kerangka UUD NRI Tahun 1945.
2. Implikasi Putusan MK Nomor: 135/PUU-XXII/2024 terhadap Sistem Ketatanegaraan
Implikasi pertama berkaitan dengan kebutuhan harmonisasi peraturan perundang-undangan. Putusan MK mengubah pemaknaan konstitusional terhadap sejumlah ketentuan dalam UU Nomor: 7 Tahun 2017 tentang Pemilihan Umum dan UU Nomor: 8 Tahun 2015 tentang Pemilihan Kepala Daerah. Oleh sebab itu, pembentuk undang-undang perlu menyesuaikan ketentuan mengenai tahapan pemilu, jadwal pemungutan suara, pencalonan, kampanye, penyelesaian sengketa, dan hubungan antara pemilu nasional dengan pemilu daerah.
Putusan pengadilan konstitusi yang telah memperoleh kekuatan hukum mengikat tidak dapat diperlakukan sekadar sebagai rekomendasi kebijakan. Namun, pelaksanaannya tetap memerlukan pengaturan yang jelas untuk menjamin kepastian hukum dan menghindari pertentangan antarperaturan. Dalam hal ini, DPR bersama Presiden perlu membentuk kerangka hukum yang konsisten dengan amar putusan serta prinsip-prinsip konstitusi.
Implikasi kedua berhubungan dengan masa jabatan pejabat publik. Pemisahan pemilu nasional dan daerah menimbulkan kebutuhan penyesuaian periodisasi jabatan anggota DPRD dan kepala daerah. Penyesuaian tersebut tidak boleh dilakukan tanpa dasar hukum yang jelas. Perpanjangan masa jabatan, pengisian jabatan sementara, atau mekanisme transisi lainnya harus dirancang dengan memperhatikan prinsip periodisitas pemilu, legitimasi demokratis, dan kepastian hukum.
Persoalan ini menjadi penting karena pemilu bukan hanya prosedur untuk memilih pejabat, melainkan juga mekanisme pembatasan kekuasaan melalui pergantian jabatan secara berkala. Oleh karena itu, rekonstruksi sistem pemilu harus menghindari keadaan ketika kebutuhan transisi justru mengurangi kepastian masa jabatan atau membatasi hak masyarakat untuk menentukan pemimpinnya.
Implikasi ketiga berkaitan dengan hubungan antara pemerintah pusat dan daerah. Pemisahan pemilu dapat memberikan ruang bagi isu lokal untuk memperoleh perhatian yang lebih besar karena pemilihan DPRD dan kepala daerah tidak berlangsung bersamaan dengan pemilu nasional. Secara teoritis, kondisi ini dapat memperkuat akuntabilitas pemerintahan daerah dan membantu pemilih membedakan evaluasi terhadap kebijakan nasional dan kebijakan lokal.
Namun, manfaat tersebut bergantung pada kemampuan partai politik dan kandidat untuk menyampaikan program yang substantif. Jika kompetisi politik daerah tetap didominasi isu nasional atau kepentingan elite partai, pemisahan jadwal belum tentu meningkatkan kualitas representasi lokal. Dengan demikian, pembaruan sistem pemilu perlu disertai penguatan demokrasi internal partai, transparansi pembiayaan politik, dan akses informasi yang memadai bagi pemilih.
Implikasi keempat menyangkut kepastian hukum pada masa transisi. Pada 28 Agustus 2025, Mahkamah Konstitusi dalam Putusan Nomor: 124/PUU-XXIII/2025 menyatakan permohonan pengujian terkait implikasi Putusan Nomor: 135/PUU-XXII/2024 tidak dapat diterima, antara lain karena perubahan norma yang dipersoalkan belum ditindaklanjuti atau dinormakan oleh pembentuk undang-undang. Perkembangan tersebut memperlihatkan pentingnya tindak lanjut legislasi agar konsekuensi perubahan desain pemilu dapat diatur secara jelas.
Keempat implikasi tersebut menunjukkan bahwa rekonstruksi sistem pemilu tidak cukup dilakukan dengan memisahkan jadwal pemungutan suara. Diperlukan penataan menyeluruh terhadap regulasi, periodisasi jabatan, mekanisme transisi, serta hubungan antara representasi nasional dan daerah.
3. Model Rekonstruksi Sistem Pemilu yang Demokratis dan Konstitusional
Rekonstruksi sistem pemilu pasca-Putusan MK Nomor: 135/PUU-XXII/2024 perlu diarahkan pada pembentukan desain kelembagaan yang mampu menggabungkan efektivitas pemerintahan dengan perlindungan kedaulatan rakyat. Untuk mencapai tujuan tersebut, terdapat beberapa agenda pembaruan yang perlu dipertimbangkan.
Pertama, pembentuk undang-undang perlu melakukan kodifikasi atau harmonisasi regulasi kepemiluan secara sistematis. Pengaturan pemilu nasional dan pemilu daerah harus memiliki hubungan yang jelas, terutama mengenai tahapan, pencalonan, kampanye, pemungutan suara, penghitungan suara, dan penyelesaian sengketa. Harmonisasi ini juga perlu menghindari tumpang tindih kewenangan antarlembaga penyelenggara pemilu.
Kedua, pengaturan masa jabatan dan mekanisme transisi harus ditetapkan berdasarkan prinsip legalitas dan kepastian hukum. Setiap penyesuaian masa jabatan perlu memiliki dasar hukum yang eksplisit, tujuan yang dapat dipertanggungjawabkan, serta batas waktu yang jelas. Mekanisme transisi tidak boleh menjadi sarana untuk memperpanjang kekuasaan tanpa legitimasi konstitusional yang memadai. Pengaturan tersebut juga harus menjamin agar hak masyarakat untuk memilih dan dipilih tidak dikurangi secara sewenang-wenang.
Ketiga, desain pemilu perlu disertai penguatan kualitas representasi politik. Pemisahan pemilu nasional dan daerah seharusnya memberikan kesempatan kepada pemilih untuk mengevaluasi program serta kinerja kandidat sesuai dengan tingkat pemerintahan yang diperebutkan. Untuk itu, transparansi pembiayaan kampanye, keterbukaan informasi kandidat, pendidikan pemilih, dan akuntabilitas partai politik harus menjadi bagian dari reformasi kepemiluan.
Keempat, efektivitas pemerintahan perlu ditempatkan sebagai tujuan yang sejalan dengan demokrasi, bukan sebagai alasan untuk mengurangi kedaulatan rakyat. Efisiensi biaya, penyederhanaan proses administrasi, dan kesinambungan pemerintahan memang penting, tetapi semuanya harus tetap tunduk pada prinsip pemilu yang bebas, jujur, dan adil. Keberhasilan sistem pemilu tidak cukup diukur melalui penghematan anggaran atau kemudahan penyelenggaraan, melainkan juga melalui kualitas partisipasi dan representasi politik.
Kelima, evaluasi terhadap desain pemilu perlu dilakukan secara berkala dengan indikator yang terukur. Indikator tersebut dapat mencakup tingkat partisipasi pemilih, beban kerja penyelenggara, biaya penyelenggaraan, kualitas representasi politik, aksesibilitas bagi kelompok rentan, serta penyelesaian sengketa pemilu. Evaluasi berbasis data akan membantu pembentuk undang-undang menilai apakah model baru benar-benar mencapai tujuan konstitusionalnya.
Berdasarkan uraian tersebut, rekonstruksi sistem pemilu Indonesia harus dipahami sebagai pembaruan menyeluruh atas hubungan antara norma konstitusi, desain kelembagaan, dan praktik demokrasi. Putusan MK Nomor: 135/PUU-XXII/2024 menyediakan landasan bagi perubahan tersebut, tetapi keberhasilannya bergantung pada tindak lanjut legislasi yang konsisten, partisipatif, dan berorientasi pada perlindungan hak politik warga negara.
Pada akhirnya, efektivitas pemerintahan dan kedaulatan rakyat bukanlah dua tujuan yang harus dipertentangkan. Sistem pemilu yang konstitusional justru harus mampu memastikan bahwa pemerintahan berjalan secara efektif karena memperoleh legitimasi demokratis, sedangkan legitimasi tersebut dipelihara melalui pemilu yang berkala, adil, dan memberikan ruang yang bermakna bagi rakyat untuk menentukan arah penyelenggaraan negara.
________________
Artikel ini bermanfaat?
Dukung Hukumindo agar kami dapat terus menghadirkan edukasi hukum secara gratis.
________________
Referensi:
1. Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.
2. Undang-Undang Nomor: 7 Tahun 2017 tentang Pemilihan Umum.
3. Undang-Undang Nomor: 8 Tahun 2015 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor: 1 Tahun 2015 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor: 1 Tahun 2014 tentang Pemilihan Gubernur, Bupati, dan Wali Kota Menjadi Undang-Undang.
4. Putusan Nomor: 14/PUU-XI/2013 tentang Pengujian Undang-Undang Pemilihan Umum Presiden dan Wakil Presiden.
5. Putusan Nomor: 55/PUU-XVII/2019 tentang Pengujian Undang-Undang Pemilihan Umum.
6. Putusan Nomor: 135/PUU-XXII/2024 tentang Pengujian Undang-Undang Nomor: 7 Tahun 2017 tentang Pemilihan Umum dan Undang-Undang Nomor: 8 Tahun 2015 tentang Pemilihan Kepala Daerah.
7. Huda, Ni’matul. 2010. Hukum Tata Negara Indonesia. Jakarta: Rajawali Pers.









