Senin, 21 September 2020

Baharuddin Lopa, Jaksa Agung Jujur Dan Sederhana

(id.wikipedia.org)

Oleh:
Mahmud Kusuma, S.H., M.H.

Sebelumnya platform Hukumindo.com telah membahas mengenai "Lasdin Wlas, Advokat Veteran Yang Masih Aktif Berpraktik" dalam label Tokoh Hukum. Pada kesempatan ini akan dibahas salah satu Jaksa Agung yang sederhana dan jujur yaitu Baharuddin Lopa.

Baharuddin Lopa, S.H., lahir di Pambusuang, Balanipa, Polewali Mandar, Indonesia pada tanggal 27 Agustus 1935, dan meninggal di Riyadh, Arab Saudi, 3 Juli 2001 dengan umur 65 tahun. Sampai dengan meninggalnya, beliau adalah Jaksa Agung Republik Indonesia pada pemerintahan Presiden Abdurrahman Wahid yang menjabat pucuk pimpinan korps Adyaksa dari tanggal 6 Juni 2001 sampai wafatnya pada tanggal 3 Juli 2001. Jabatan lain yang pernah diembannya adalah mantan Duta Besar Indonesia untuk Arab Saudi, anggota Komnas HAM dan Menteri Hukum dan HAM.[1] Sumber lain mengatakan bahwa beliau merupakan keturunan bangsawan terpandang di daerah Polman.

Sepak Terjang Sebagai Jaksa

Di usianya yang baru 23 tahun dan statusnya masih Mahasiswa hukum di Universitas Hasanuddin, Lopa diminta menjadi Jaksa di Kajari Makassar. Dua tahun di sana, prestasinya di bidang hukum cukup baik, beliau lalu menjadi Bupati Majene di usia 25 tahun. Usia yang masih sangat muda. Di usia itu, dia ditugaskan untuk menyelesaikan berbagai macam kasus hukum yg terjadi di Majene. Saat itu, ada seorang penguasa perang asal Mandar bernama Andi Selle. Andi Selle adalah Komandan Batalyon 710 yang terkenal kaya karena terlibat kasus penyelundupan kopra.[2]

Lopa pernah ditawarkan uang untuk mendukung bisnis Selle. Lopa kemudian mengatakan; “Kebijakan pemerintah itu harus yang terbaik bagi rakyat, bukan untuk kepentingan penguasa,” ucapnya. Setelah mengucapkan itu, kehidupan Lopa mulai terusik. Nyawanya sering diancam tuk dibunuh. Selle kemudian mengajak Lopa untuk adu tembak, tapi Lopa menolaknya. Setelah menolak ajakan duel tersebut, tiap hari Selle selalu meneror Lopa bahwa Loppa akan diculik dan diinterogasi. Beruntung, saat itu Kapten dari satuan Kepolisian bernama Andi Dadi melindungi nyawa Lopa.[3]

Setelah menjadi Bupati, ia kembali menjadi Jaksa di Kejaksaan Tinggi Maluku dan Irian Barat sebelum menjadi Kepala Kejaksaan Negeri di Ternate. Ketika di Ternate, Lopa pernah diberikan satu truk durian. Ia menolak dan menyuruh mobil itu kembali, ucap Andi Hamzah, GuBes Univ Trisakti.[4]

Kasus terbesar yang ditangani Lopa ialah kasus korupsi Soeharto. Saat itu ia menjabat sebagai Sekretaris Jenderal Komnas HAM. Lopa selalu menanyakan kemajuan proses perkara ini kepada teman temannya di Kejaksaan Agung. Soeharto sering dipanggil, tapi selalu absen dengan alasan sakit. Meski begitu, ia berhasil meringkus salah satu sahabat Soeharto yakni Bob Hasan. Bob ialah seorang pengusaha bisnis kayu dan mantan Menteri Perindustrian. Lopa berhasil memasukkan Bob ke dalam LP Nusakambangan, meski saat itu, Soeharto sedang memimpin dan Lopa bisa saja terancam.[5]

Cerita Kejujuran Dan Kesederhanaan Baharuddin Lopa

Cerita mengenai kejujuran Baharuddin Lopa cukup banyak, diantaranya beliau melarang Istrinya naik mobil dinas “hanya” untuk pergi ke pasar. Dia menolak pemberian 10K$ AS dari teman masa kecilnya. Dia juga sering pinjam sepatu ajudannya.[6]

Karena pribadinya yang sangat sederhana dan esktrem dalam menegakkan keadilan serta berbagai macam kasus korupsi, Gusdur pun mempercayainya memegang jabatan strategis itu. Sosok Baharuddin Lopa memang berbeda dengan kebanyakan pejabat yang kita kenal. Saat menjabat menjadi Kejaksaan Tinggi (Kajati) Sulawesi Selatan, Lopa menulis di Surat Kabar: “Jangan berikan uang kepada para jaksa. Jangan coba-coba menyuap para penegak hukum, apa pun alasannya!”.[7]

Ada juga cerita tentang Jusuf Kalla dengan Baharuddin Lopa. Jusuf Kalla disingkat dengan JK yang saat itu masih menjadi pebisnis mobil pernah ditelefon Lopa. Lopa mengatakan ingin membeli sedan kelas satu. JK kemudian menawarkan mobil Toyota Crown seharga 100 juta saat itu. Tapi Lopa menolak. JK kemudian menawarkan mobil Cressida seharga 60 juta. Lopa kembali menolak. JK lalu menawarkan Corona dengan cuma-cuma kepada Lopa (yang saat itu harganya 30 juta), tapi Lopa menolak. JK menawarkan membeli dengan 5 juta saja, Lopa masih menolak. Lopa kemudian meminta Corona 30 juta dengan sistem menyicil. Bukan karena tidak punya uang, ia hanya ingin hidup sederhana.[8]

Cerita lain adalah antara Baharuddin Lopa dengan ajudannya. Enang, salah satu ajudan Lopa mengatakan, pernah suatu hari Loppa ingin menghadiri salah satu kegiatan besar. Namun saat itu, ia lupa membawa sepatu dan kaus kaki (karena hanya memakai sandal). Lopa kemudian meminjam sepatu dan kaus kaki milik Enang untuk pergi ke acara tersebut.[9]

Cerita lain tentang kesederhanaan dan kejujuran Baharuddin Lopa adalah tentang parcel lebaran. Pada 1982, Lopa ditugaskan sebagai Kepala Kejaksaan Tinggi Sulawesi Selatan di Makassar. Ketika itu, dia wanti-wanti kepada anak buahnya agar tidak menerima hadiah dalam bentuk apapun. Menjelang hari raya Lebaran, Lopa mengumpulkan anak buahnya untuk mengingatkan agar tak menerima parsel. Menjelang Lebaran, dia melihat ada dua parsel di rumahnya. Dengan raut wajah masam, Lopa bertanya kepada seisi rumahnya.[10]

Siapa yang kirim parsel ke sini!?” tanya Lopa. Seisi rumah pun tak ada yang menjawab. Kemudian, Lopa melihat salah satu parsel yang sedikit terkelupas. Lopa pun bertanya kembali. “Siapa yang membuka parsel ini!?” tanya Lopa, lagi. Tak lama kemudian, seorang putrinya menghampiri Lopa untuk meminta maaf, karena telah membuka parsel dan mengambil sepotong cokelat dalam parsel tersebut. Lopa kemudian meminta anaknya yang lain membeli cokelat dengan ukuran dan jenis yang sama, untuk mengganti cokelat di parsel tersebut.[11]

Catatan penulis atas salah satu Jaksa Agung R.I. ini adalah jika kita bicara hukum, tidak melulu membicaran aturan-aturan yang sifatnya teknis, namun juga perlu ditanamkan karakter manusianya yang positif seperti kejujuran dan kesederhanaan. Pada masanya, mungkin Baharuddin Lopa ini merupakan tokoh antik dan langka seperti Mar'ie Muhammad atau Artidjo Alkostar, sehingga karakternya perlu diwariskan. 
_________________
Referensi:

1. "Baharuddin Lopa", id.wikipedia.org., diakses pada 20 September 2020, https://id.wikipedia.org/wiki/Baharuddin_Lopa
2. "Baharuddin Lopa, Jaksa Agung yang Kelewat Jujur dan Sederhana", mojok.co, Diakses pada tanggal 20 September 2020, https://mojok.co/terminal/baharuddin-lopa-jaksa-kelewat-jujur-dan-sederhana/
3. Ibid.
4. Ibid. 
5. Ibid.
6. Ibid.
7. Ibid.
8. Ibid.
9. Ibid.
10. "Baharuddin Lopa, Pendekar Hukum Antisuap Keturunan Bangsawan Sulsel", idntimes.com, diakses pada tanggal 20 September 2020, https://www.idntimes.com/news/indonesia/anabel-yevina-mulyadi-wahyu/baharuddin-lopa-pendekar-hukum-antisuap-keturunan-bangsawan-sulsel/3
11. Ibid.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Larangan Menyita Barang Tertentu

( iStock ) Oleh: Mahmud Kusuma, S.H., M.H. Sebelumnya platform Hukumindo.com telah membahas mengenai artikel berjudul " Mendahulukan P...